JAMBI, LANGITVIRAL.COM – Ketika api membesar dan asap mulai menebal, perhatian biasanya tertuju kepada mereka yang berada paling depan: personel Regu Pemadam Kebakaran (RPK) yang berjibaku mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Namun, ada pekerjaan lain yang berlangsung nyaris tanpa sorotan.
Di balik para personel yang berhadapan langsung dengan panas, asap dan medan sulit, ada tenaga medis yang memastikan kondisi mereka tetap terjaga.
Salah satunya Nuriah.
BACA JUGA: Dua Anggota Di-PTDH, 12 Orang Jadi Korban: Kasus Calo Penerimaan Polri di Jambi Belum Usai
Sejak bergabung mendampingi personel RPK PT Wirakarya Sakti (WKS), unit usaha APP Group, Nuriah menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan dan keselamatan personel dalam berbagai kegiatan pengendalian karhutla di Jambi.
Pekerjaannya bahkan dimulai sebelum tim pemadam meninggalkan pos.
Kondisi kesehatan personel diperiksa. Edukasi diberikan. Masker dan vitamin disiapkan. Semua dilakukan untuk memastikan mereka memiliki kesiapan fisik sebelum masuk ke lokasi penanganan karhutla.
“Sering kali pekerjaan kami dimulai jauh sebelum pertolongan dibutuhkan. Pemeriksaan kesehatan, edukasi, hingga pemberian masker dan vitamin menjadi bagian dari upaya menjaga personel tetap fit saat bertugas,” ujar Nuriah.
BACA JUGA: Kualitas Udara Memburuk, APHI Komda Jambi Bergerak Bagikan 6.000 Masker Khusus Anak
Tetapi pekerjaan itu tidak selalu selesai di pos kesehatan.
Ketika personel berada di lokasi yang sulit dijangkau, Nuriah bersama tim medis harus ikut bergerak mendekati mereka.
Sepeda motor maupun kendaraan lapangan menjadi bagian dari perjalanan menuju lokasi. Dalam kondisi tertentu, pendampingan bahkan berlangsung hingga malam hari, mengikuti kebutuhan personel yang masih menjalankan tugas.
Medan yang tidak mudah dan situasi yang dapat berubah sewaktu-waktu membuat komunikasi antara tim medis dan regu pemadam menjadi sangat penting.
BACA JUGA: Puluhan Medali dan Dua Gelar Juara Umum, Ini Rahasia di Balik Gemilangnya ADS Taekwondo Academy
Bagi Nuriah, kesehatan personel tidak bisa dipisahkan dari keselamatan seluruh tim di lapangan.
“Tim medis membutuhkan dukungan tim lain untuk menjangkau personel. Begitu juga RPK membutuhkan kondisi kesehatan yang baik untuk menjalankan tugas. Karena itu, keselamatan di lapangan menjadi tanggung jawab bersama,” katanya.
Karhutla bukan hanya soal seberapa cepat api berhasil dipadamkan.
Di lapangan, personel juga harus menghadapi panas, asap, medan yang sulit serta durasi pekerjaan yang bisa berubah mengikuti kondisi.
BACA JUGA: Kunci Gambut Tak Membara: APHI Jambi Pacu Penguatan Tata Air Sesuai Arahan Wamen LH
Karena itu, ketika ada personel yang mengalami gangguan kesehatan, tim medis melakukan penanganan sesuai kondisi yang ditemukan. Pemeriksaan fisik hingga pertolongan langsung menjadi bagian dari dukungan yang diberikan.
Bagi Nuriah, ada satu hal yang selalu terlintas setiap kali melihat personel berangkat menuju lokasi.
Bukan hanya apakah mereka berhasil menyelesaikan tugas.
Tetapi, **bagaimana mereka kembali setelah tugas itu selesai.**
“Bagi saya, keberhasilan bukan hanya saat tugas selesai, tetapi ketika setiap personel dapat kembali dalam keadaan sehat dan selamat,” ujarnya.
BACA JUGA: Karhutla, Antara Rakyat Kecil, Perusahaan, dan Tanggung Jawab Negara
Kalimat tersebut menjadi gambaran sederhana tentang pekerjaan yang selama ini dijalani Nuriah.
Di tengah situasi karhutla, keberhasilan tidak hanya diukur dari api yang berhasil dikendalikan. Ada ukuran lain yang tak kalah penting: tidak ada personel yang pulang dalam kondisi membahayakan keselamatannya.
Bagi Nuriah, pekerjaan mendampingi personel RPK pada akhirnya bukan sekadar urusan medis.
Ada sisi kemanusiaan yang selalu mengiringinya.
Setiap personel yang berangkat ke lapangan bukan hanya membawa perlengkapan pemadaman. Mereka juga membawa satu hal yang tidak terlihat: ada keluarga yang menunggu kepulangan mereka.
“Pada akhirnya, yang paling penting adalah memastikan setiap personel bisa pulang dengan selamat, karena selalu ada keluarga yang menunggu mereka di rumah,” kata Nuriah.
Pesan itu terasa semakin penting di tengah periode rawan karhutla, ketika personel harus tetap bersiaga dan bergerak mengikuti munculnya titik kebakaran.
Keberadaan tenaga medis akhirnya menjadi bagian dari rantai keselamatan yang berjalan di belakang para pemadam.
Mereka mungkin tidak selalu terlihat ketika api berkobar.
Tidak pula berdiri di depan kamera ketika asap mengepul.
Tetapi ketika seorang personel membutuhkan pemeriksaan, pertolongan atau sekadar memastikan kondisi tubuhnya masih siap bekerja, tim medis berada di sana.
Karena memadamkan karhutla bukan hanya tentang menjaga hutan dan lahan dari api.
Di dalamnya juga ada upaya menjaga manusia yang berada di garis depan agar tetap sehat, tetap selamat, dan pada akhirnya bisa kembali ke rumah.
Sebab bagi mereka yang bertugas di tengah karhutla, tugas boleh selesai ketika api padam. Tetapi bagi keluarga yang menunggu, tugas baru benar-benar selesai ketika orang yang mereka cintai kembali dengan selamat.*

























Discussion about this post