JAMBI, LANGITVIRAL.COM – Upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat adat di wilayah terpencil tidak cukup hanya dengan menghadirkan layanan kesehatan.
Akses pendidikan, pendampingan berkelanjutan, hingga penguatan kapasitas masyarakat juga menjadi bagian penting agar perubahan dapat berlangsung dalam jangka panjang.
Hal inilah yang dilakukan PT Sari Aditya Loka (SAL) melalui program pendampingan terhadap komunitas Suku Anak Dalam (SAD) di Kabupaten Sarolangun, Jambi.
Program tersebut mencakup sektor kesehatan dan pendidikan dengan sasaran masyarakat SAD yang berada di wilayah binaan perusahaan.
Di bidang kesehatan, PT SAL sepanjang tahun lalu membina enam posyandu khusus SAD. Layanan tersebut diperkuat melalui kegiatan kesehatan keliling dan dukungan ambulans yang telah menjangkau 241 kepala keluarga.
Program ini diarahkan untuk membantu meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan dasar sekaligus mendukung upaya pencegahan stunting dan penyakit menular.
Pendekatan yang dilakukan tidak berhenti pada pemberian layanan kesehatan. PT SAL juga melakukan pembinaan terhadap kader, pemberian makanan tambahan serta berkolaborasi dengan puskesmas dalam pelaksanaan berbagai intervensi kesehatan.
Dengan pola pendampingan tersebut, layanan kesehatan diharapkan dapat berjalan secara berkelanjutan dan semakin dekat dengan masyarakat SAD yang tinggal di wilayah terpencil.
Asisten Sustainability PT SAL Slamet Riyadi mengatakan kontribusi perusahaan dalam pendampingan masyarakat SAD juga mendapat apresiasi dari sejumlah pemerintah daerah.
“Perusahaan pun mendapat apresiasi dari pemerintah daerah atas kontribusi nyata, termasuk penghargaan dari Kabupaten Merangin, Kabupaten Sarolangun dan piagam Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) dari BKKBN Provinsi Jambi,” ujar Slamet.
Apresiasi tersebut menjadi bagian dari catatan atas keterlibatan perusahaan dalam mendukung program peningkatan kesehatan masyarakat, khususnya bagi komunitas yang membutuhkan akses layanan dasar.
Pendampingan PT SAL juga menyasar sektor pendidikan.
Saat ini perusahaan membina 13 sekolah dengan total 412 siswa. Dukungan tersebut tidak hanya diarahkan pada proses belajar mengajar, tetapi juga membantu memastikan anak-anak SAD memiliki kesempatan untuk mengakses pendidikan secara lebih berkelanjutan.
Salah satu bentuk dukungan tersebut diwujudkan melalui Wisma Madu Rimbo, yang disediakan sebagai tempat tinggal bagi pelajar SAD sehingga mereka dapat mengakses pendidikan hingga jenjang menengah.
Keberadaan fasilitas tersebut menjadi penting bagi anak-anak yang menghadapi keterbatasan akses pendidikan karena faktor jarak maupun kondisi wilayah tempat tinggal.
Selain menyediakan dukungan bagi pelajar, perusahaan juga memberikan perhatian terhadap tenaga pendidik dan fasilitas belajar.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan partisipasi sekolah sekaligus membuka kesempatan yang lebih luas bagi generasi muda SAD untuk memperoleh pendidikan.
### Pendampingan Berkelanjutan Jadi Kunci
Program kesehatan dan pendidikan yang dijalankan PT SAL menunjukkan bahwa pendampingan masyarakat adat membutuhkan pendekatan yang tidak bersifat sesaat.
Di sektor kesehatan, penguatan posyandu, kader, makanan tambahan dan kerja sama dengan fasilitas kesehatan menjadi bagian dari upaya memperkuat layanan dasar.
Sementara di sektor pendidikan, pembinaan sekolah dan penyediaan tempat tinggal bagi pelajar diarahkan untuk membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi anak-anak SAD.
Melalui berbagai program tersebut, keterlibatan perusahaan diharapkan dapat membantu pemerintah memperluas akses layanan dasar sekaligus mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di wilayah terpencil.
Program ini juga menjadi bagian dari komitmen PT SAL dalam menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan dengan memberikan perhatian terhadap kebutuhan kesehatan, pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
Bagi komunitas SAD, keberlanjutan pendampingan menjadi bagian penting untuk memastikan layanan kesehatan semakin mudah dijangkau dan anak-anak memiliki kesempatan lebih besar untuk terus bersekolah.
Langkah tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa peningkatan kualitas hidup masyarakat adat tidak hanya berbicara mengenai bantuan, tetapi juga tentang membangun akses, kapasitas dan kesempatan agar masyarakat dapat berkembang secara berkelanjutan.*



























Discussion about this post