LANGITVIRAL.COM – Pemerintah semakin serius mewujudkan pemerataan pembangunan hingga ke pelosok negeri.
Salah satu langkah besar yang disiapkan adalah meningkatkan anggaran Program Listrik Desa (Lisdes) menjadi Rp10,3 triliun pada tahun 2026 guna mempercepat akses listrik bagi ribuan desa dan dusun yang hingga kini masih hidup tanpa penerangan listrik.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, saat ini masih terdapat sekitar 5.700 desa dan 4.400 dusun di berbagai wilayah Indonesia yang belum menikmati aliran listrik.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah, terutama setelah Presiden Prabowo Subianto meminta agar pembangunan tidak hanya terpusat di perkotaan, tetapi juga menjangkau masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil dan terluar.
“Pemerataan pembangunan harus dirasakan seluruh rakyat Indonesia. Negara harus hadir untuk melayani masyarakat hingga ke pelosok,” kata Bahlil saat meninjau Program Listrik Desa (Lisdes) dan Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) gratis di Dusun Krembeng, Desa Hardimulyo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Menurut Bahlil, keputusan menaikkan anggaran Lisdes hampir tiga kali lipat dari tahun sebelumnya merupakan langkah strategis untuk mempercepat pembangunan jaringan listrik di daerah yang selama ini sulit dijangkau.
Pada tahun 2025, pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar Rp3,6 triliun untuk membangun infrastruktur kelistrikan di 1.361 lokasi yang terdiri dari desa dan dusun. Namun, kebutuhan di lapangan masih sangat besar sehingga diperlukan tambahan anggaran yang signifikan.
Bahlil menegaskan bahwa pembangunan listrik di wilayah terpencil memang sering kali tidak menguntungkan secara bisnis. Biaya investasi yang harus dikeluarkan sangat besar, sementara jumlah pelanggan relatif sedikit.
BACA JUGA: Pertamax Naik Drastis Mulai Hari Ini, Tembus Rp16.250 per Liter! Ini Penjelasan Resmi Pertamina
Ia mencontohkan, untuk melayani sekitar 44 kepala keluarga di daerah tertentu, biaya pembangunan jaringan listrik bisa mencapai hampir Rp700 juta.
“Kalau dilihat dari sisi bisnis tentu tidak ekonomis. Tetapi negara tidak boleh hanya menghitung untung dan rugi. Tugas pemerintah adalah memastikan seluruh rakyat mendapatkan hak yang sama terhadap akses listrik,” tegasnya.
Menurutnya, listrik bukan sekadar kebutuhan dasar, tetapi juga menjadi kunci peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga pelayanan publik.
Dalam kesempatan tersebut, Bahlil juga membagikan pengalaman pribadinya yang membuat dirinya sangat memahami pentingnya akses listrik bagi masyarakat.
Ia mengaku lahir dan tumbuh di lingkungan yang belum memiliki listrik. Pengalaman tersebut membuatnya memahami bagaimana sulitnya anak-anak belajar dan masyarakat beraktivitas ketika malam hari tanpa penerangan yang memadai.
“Saya mantan anak kampung yang lahir tanpa listrik. Saya tahu bagaimana rasanya hidup dalam keterbatasan. Bagaimana anak-anak belajar kalau tidak ada penerangan. Karena itu saya ingin memastikan kondisi seperti itu semakin berkurang di Indonesia,” ungkapnya.
Program Lisdes sendiri akan difokuskan pada pembangunan jaringan distribusi, gardu listrik, serta infrastruktur pendukung lainnya. Sementara Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) akan membantu masyarakat kurang mampu memperoleh sambungan listrik secara gratis.
Pemerintah menargetkan seluruh desa dan dusun yang belum menikmati listrik dapat ditangani secara bertahap hingga tahun 2027.
BACA JUGA: Masuk Zona Merah, Warga Sukakarya Tolak Program Kota Jambi Bahagia
Kementerian ESDM menilai percepatan elektrifikasi nasional bukan hanya soal menghadirkan cahaya di malam hari, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru, meningkatkan kualitas pendidikan, mempercepat transformasi digital, dan mendorong pemerataan kesejahteraan masyarakat di seluruh Indonesia.
Dengan anggaran mencapai Rp10,3 triliun pada 2026, pemerintah berharap tidak ada lagi wilayah yang tertinggal dalam menikmati manfaat pembangunan dan kemajuan teknologi yang ditopang oleh akses listrik yang memadai.*
























Discussion about this post